Kisah 'Sibaroar' Asal Usul Nasution akan Difilmkan - Purba Baru

Post Top Ad

Kisah 'Sibaroar' Asal Usul Nasution akan Difilmkan

Kisah 'Sibaroar' Asal Usul Nasution akan Difilmkan

Share This
Makam Sibaroar (sumber)
PURBA BARU ONLINE -- Gagasan untuk mewujudkan film “Sejarah Sibaroar Nasution” makin menguat dalam pertemuan terbatas di Hotel Madani, Medan, pada Rabu (31/1).

Pertemuan itu digagas oleh Ikatan Keluarga Nasution (Ikanas) Sumatera Utara plus Naposo Nauli Bulung Ikanas Medan.

Sutradara film Mandailing dari Jeges Art, Askolan Nasution diundang mewakili bakal penulis skenario, plus Adenin Adlan, sineas Indonesia yang berpengalaman menulis skenario dan menjadi produser film nasional semacam “Emak Ingin Naik Haji”, “Sayap Kecil Garuda”, “Ummi Aminah”, “Rumah Tanpa Jendela”, “Ada Syurga di Rumahmu”, dan lain-lain.

Semua sepakat bahwa film tentang sejarah marga Nasution harus dibuat dalam bentuk film layar lebar. Tentu dengan pemeran yang juga berskala nasional nantinya.

ilustrasi

logo ikanas


Marga Nasution yang demikian besar sudah semestinya mampu membuat film berskala nasional. Apalagi Mandailing Natal memiliki sineas seperti Adenin Adlan yang asli Roburan, dan memiliki pengalaman yang matang dalam membuat film, terutama menarik dukungan sponsor. Juga Askolani Nasution sineas Mandailing yang sudah melahirkan banyak film Mandailing semisal “Biola Na Mabugang”, “Lilu”, Sibisuk Naoto”, “Holong Na Tarhalang”.

Askolani Nasution dalam linimasa akun FB-nya menyebukan, bahwa film “Sibaroar” ini sedikitnya membutuhkan biaya produksi tiga milyar itu, dan sudah semestinya didukung pihak sponsor.
Musthafawiyah didirikan oleh marga Nasution

Pesantren nasution terbaru

“Saya tentu dapat banyak cerita tentang berbagai seluk beluk film nasional dari Adenin Adlan, betapa sebuah film begitu mudah mendapatkan sponsor kalau memajang aktor kawakan, katakanlah sekelas Reza Rahardian,” katanya.

Apalagi kalau dengan skenario yang “gold scen”, skenario yang bisa menunda penonton bioskop untuk “menunda ke WC sepanjang pemutaran film”. (Itu saya bandingkan dengan film “Dilan 1990” yang berhasil memelihara gold scen itu).

Selain itu, penggunaan bahasa Mandailing untuk film tentu membutuhkan kualitas cerita yang menarik dan gambar yang memikat. Tapi Sumatera Selatan berhasil membuat film berbahasa daerah melalui “Mengejar Angin” yang diperankan Lukman Sardi. Tentu dengan tambahan sub title. Kalau begitu, bakal film “Sibaror Nasution” harus juga menggunakan bahasa Mandailing agar kontekstualitas ceritanya lebih kuat. Sekalian promosi bahasa sendiri.

Dan meskipun Adenin Adlan jagoan menulis skenario sebagaimana dalam film “Emak Ingin Naik Haji”, tetap saja yang diminta menulis skenarionya adalah Askolani Nasution. Mengingat Askolani Nasution penutur asli bahasa Mandailing.

Askolani sendiri di petemuan itu menyatakan sedapat mungkin berkomitmen untuk membuat bahasa skenario yang komunikatif tapi berkarakter daerah. Dan itu tugas berat, tapi menantang. Dan filmnya nanti sedapat mungkin juga harus membuka ruang bagi sineas dan aktor pendukung daerah. Kapan lagi kita punya film berskala nasional, itu! (sumber)

Nasution dalam Sejarah Kesultanan Kotapinang

Kesultanan Kota Pinang pada mulanya bernama Kesultanan Pinang Awan. Kesultanan ini didirikan oleh Batara Sinomba atau Batara Gurga Pinayungan Tuanku Raja Nan Sakti, putra Sultan Alamsyah Syaifuddin yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung.

Sultan Batara Sinomba kemudian menikah dengan seorang puteri setempat. Ia memperoleh dua orang putra dan seorang putri yang bernama Siti Ungu Selendang Bulan. Kemudian ia menikah lagi dengan seorang putri setempat lainnya dan memperoleh seorang putra. Istrinya yang kedua berusaha mempengaruhi Batara Sinomba agar putranyalah yang kelak menggantikannya sebagai raja, sehingga kedua orang putra raja dari istri yang pertama itu diusir. Setelah membunuh Batara Sinomba berkat bantuan tentara Kerajaan Aceh, maka Sultan Mangkuto Alam putra dari istri yang pertama, naik tahta menjadi sultan Kota Pinang. Sebagai balas jasa, Siti Ungu dinikahkan kepada raja Aceh, Sultan Iskandar Muda. Kelak keturunan Mangkuto Alam dan Siti Ungu inilah kemudian yang menjadi raja-raja di Kesultanan Asahan, Pannai, dan Bilah.

Setelah Jepang meninggalkan Indonesia pada tahun 1945, para sultan di Sumatera Timur menghendaki kedudukannya sebagai raja kembali dipulihkan. Namun setahun kemudian, pergerakan anti-kaum bangsawan dalam sebuah Revolusi Sosial Sumatera Timur, tak menginginkan adanya pemulihan sistem feodalisme tersebut. Akibatnya kesultanan-kesultanan yang ada di Sumatera Timur, seperti Deli, Langkat, Serdang, Bilah, Panai, Kualuh, dan Kota Pinang, dipaksa untuk berakhir dan bergabung dengan Republik Indonesia. (sumber)

ilustrasi


Batara Gurga memiliki seorang saudara yang bernama Batara Payung Tuanku Raja Nan Sakti. Putranya, Baroar Nan Sakti, diangkat sebagai raja oleh masyarakat Mandailing Godang dengan gelar Sutan Diaru. Kelak keturunan Batara Payung Nan Sakti inilah yang membentuk fam/marga Nasution (Nan sakti on) di Kabupaten Mandailing Natal.

Salah seorang keturunan dari Batara Gurga Pinayungan Tuanku Raja Nan Sakti, yaitu Anwar Nasution, dianugerahi gelar sangsako adat Yang Dipertuan Tuanku Raja Pinayungan Nan Sati oleh pihak keturunan Raja Pagaruyung pada suatu prosesi adat di Istano Silinduang Bulan, Tanah Datar, Sumatera Barat pada tahun 2006. Anwar Nasution yang pernah menjabat Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), merupakan generasi ke-16 dari Batara Gurga Pinayungan Tuanku Raja Nan Sakti. (sumber)

Suku Mandailing

Mandailing atau Mandahiling diperkirakan berasal dari 2 kata dari bahasa Sanskerta, yaitu kata Mandala dan Holing. Mandala berarti pusat dari federasi beberapa kerajaan, sedangkan Holing/Hiling/Kalingga berasal dari nama Kerajaan Kalinga. Kerajaan Kalingga diperkirakan berdiri sebelum digantikan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 dengan raja terakhirnya Sri Paduka Maharaja Indrawarman putra dari Ratu Shima. Sri Maharaja Indrawarman juga merupakan saudara kandung dari Raja Sanjaya yang membentuk Mataram Hindu di Pulau Jawa, setelah menikahi Ratu Galuh, yang di kemudian hari disebut juga sebagai Kerajaan Medang (yang raja-rajanya bergantian antara keturunan Syailendra dan Sanjaya yang diikat dalam tali perkawinan antar keturunan keduanya, untuk mengakhiri peperangan antar dua wangsa keturunan Wijaya itu, yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra).

Sumber


Dalam bahasa Minangkabau, Mandailing juga bisa diartikan sebagai mande hilang yang bermaksud "ibu yang hilang". Oleh karenanya ada pula anggapan berdasarkan silsilah, yang mengatakan bahwa masyarakat Mandailing berasal dari Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau. Itu sebabnya bahasa Melayu dialek Minangkabau masih dikenal luas sebagai bahasa asli di wilayah-wilayah penyebaran etnis Mandailing di Sumatera. (sumber)

Sejarah Mandailing

Masa ini disebut juga masa kejayaan orang-orang Mandailing atau Mandahiling di nusantara. Ratu terakhirnya adalah Ratu Shima dan Raja Sanna/Senna/Sinna yang mempunyai dua anak, yaitu Paduka Sri Maharaja Indrawarman dan Raja Sanjaya. Kerajaan ini bubar pada abad ke-7setelah Sri Maharaja Indrawarman terbunuh oleh Syailendra di istananya Kerajaan Dharmasraya, sedangkan Raja Sanjaya yang awalnya beribukota di pesisir utara Jawa Tengah dekat Semarang yang menamakan ibukotanya sebagai Kalingga tersingkir oleh Raja Syailendra hingga ke pedalaman, yaitu Mataram, hingga membentuk kerajaan yang dikenal sebagai Mataram Hindu. Sri Maharaja Indrawarman dan Raja Sanjaya ditumbangkan Syailendra, karena dianggap melanggar adat karena masuk agama Islam, yang dibawa oleh utusan Khalifah Utsman bin Affan. Kerajaan Kalingga digantikan Kerajaan Sri Wijaya yang didirikan Syailendra yang beribukota di Palembang. (sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages